Saturday, September 07, 2013

Mengenal Tradisi Upacara Wara Di Pedalaman Ulu Barito

Rumah Penyelenggara Upacara Wara
Ternyata kendala kapal kandas yang kami alami karena air sungai ulu barito yang kecil di Desa Tumpung Lahung kecamatan Mantallat 1 Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah dalam beberapa hari ini memberi hikmah tersendiri bagi kami.  Hikmah tersebut adalah kami mendapatkan pengalaman untuk melihat salah satu dari keragaman budaya bangsa yang selama ini hampir kita tidak pedulikan yaitu tradisi upacara kematian yang di selenggarakan oleh salah satu penganut kepercayaan hindu Kaharingan di desa tumpung lahung.




Lokasi kandasnya tongkang kami yang berdekatan dengan  kampung paring lahung kec Mantallat 1 Barito utara kalimantan tengah memberi pengalaman tersendiri. Karena hari itu bertepatan di adakanya acara adat dayak wara. Acara wara ini adalah  acara adat yang sering di lakasanakan oleh warga dusun di kalimantan tengah Khususnya penganut agama hindu kaharingan, Wara termasuk dalam upacara kematian.  Bersama beberapa teman crew kapal kami dan di dampingi penduduk asli yang juga menjadi service boat  kami meluncur menuju kampung paring lahung tersebut. Dalam tempo  waktu 30 menit perjalanan lewat klotok kami akhirnya sampai di desa tersebut. 

salah satu kelompok perjudian yg merupakan
 salah satu rangkaian upacara wara
Ketika sampai di rumah penduduk kami di suguhi pemandangan yang tidak lazim yaitu sebuah arena  judi  yang terdiri hampir 15 kelompok.  Ajang dadu itu di ikuti oleh semua lapisan warga desa mulai anak usia  empat tahun sampai lanjut usia , baik perempuan maupun laki – laki. Ketika saya tanya kepada driver service boat kami mengenai ajang judi ini ternyata itu adalah bagian dari tradisi dalam upacara wara tersebut.

Upacara adat wara ini mirip dengan acara ngaben yang biasa di adakan di Bali. Upacara ini bagi penganut agama hindu keharingan di kalimantan tengah merupakan salah satu dari sekian banyak upacara adat yang memiliki nilai ritual dan sakral yang sangat tinggi, khususnya upacara adat kematian.Di Blog ini akan sedikit saya ulas tentang seluk beluk upacara wara ini dari beberapa sumber.

 Masyarakat dayak membedakan manusia dalam tiga dimensi siklus. Yaitu siklus manusia sebelum lahir, siklus manusia setelah lahir  yang dinamakan alam kehidupan ( duni ) dan siklus setelah kehidupan   ( alam surga  ). Ketiga siklus ini di tandai dengan beberapa acara adat. Salah satunya adalah adat wara ini yang akan saya share ke teman – teman semua.

Menurut kepercayaan Masyarakat dayak yang memeluk kepercayaan keharingan, Upacara ini memiliki nilai ritual tertinggi di banding acara adat lainnya. Dalam uapacara ini roh yang sebelumnya menunggu di gunung lumut salah satu tempat yang di anggap sakral oleh masyarakat dayak di pedalaman sungai tewei ( teweh ) di panggil lagi untuk menerima sesajen dan pencucian sebelum di anatar ke syurga loka ( tempat suci ).

Wara merupakan ritual dalam rangka membagikan bagian harta benda kepada arwah kakek , nenek , orang
menaikan boneka
tua, atau saudara dari keluarga – keluarga penyelenggara wara yang telah meninggal satu atau dua tahun yang lalu. Pembagian harta benda tersebut di lambangkan dalam bentu sesajen berupa makanan dan minuman sesuai makanan kebiasaan arwah semasa masih hidup dulu. Wara biasanya berlangsung tujuh hari tujuh malam.

Upacara wara di pimpin oleh wadian wara yang berperan sebagai penghubung antara manusia dengan arwah. Wadian wara di bantu oleh pelayan – pelayan yang di sebut Pengading. Mereka melakukan upacara – demi upacara di antara rangkaian upacara wara ini.

Prosesi Jalannya upacara adat wara ini yang pertama adalah ngamaner wara  artinya menyerahkan segala sesuatu yang berhubungan roh yang di upacarai kepada wadian wara. Pada hari kedua dan ketiga adalah keluarga penyelenggara menerima tamu baik dari desa sendiri maupun desa di sekitarnya, atau tokoh – tokoh masyarakat. Acara keempat acara babea – babea yakni acara membuat ansak berupa anyaman bambu sedemikian rupa sebanyak arwah yang di upacarai wara, untuk tempat sesaji.

newek karewau / menusuk kerbau
 baju merah adalah para exsekutor
Hari kelima adalah acara newek karewau atau acara penusukan kerbau yang merupakan acara klimaks dari rentetan upacara ini. Penusukan kerbau di lakukan oleh petugas dari keluarga – keluarga yang di upacarai dengan di tusuk menggunakan lading atau badik atau pisau lancip sedang kerbau di ikat pada pantagor yakni patung arwah yang di upacarai yang terbuat dari kayu ulin setingi lebih kurang 3 meter yang di tancapkan di tanah lapang. Begitu menarinya acara ini  biasanya yang datang bukan hanya dari satu desa atau atau desa tetangga. Tak jarang masyarakat dari kabupaten lain jg berbondong mengirimkan wakilnya untuk ikut adu keberanian menikam kerbau.

Kalau saya lihat acara ini mirip matador. Hanya bedanya klo matador tidak menyakiti bantengnya tapi kalu ini petugas penusuk kerbau membuat formasi lingkaran dan menusuk kerbau sekenaknya ketika kerbau yang di ikatnya itu melewati depannya. Dalam pelaksanaan upacara adat ini lumayan mengandung resiko yang membahayakan baik bagi petugas penusuk kerbau maupun pengunjung yang meliahatnya. Untuk itu harus serba hati – hati dan waspada karena pemangku adat hanya mengganti dengan sebuah piring putih porselen apabila terjadi kecelakaan baik cidera ringan maupun kecelkaan yang bisa menyebabkan kematian.

kuburan atau tempat menaruh kerangka para leluhurnya
Selesai acara pembunuhan kerbau di lanjutkan dengan memasak dan makan bersama tamu undangan. Sesaji yang telah di taruh di ansak sepoerti yang tersebut di atas dan benda lain di antar kekuburan pada hari keenam. Perkuburan tempat bersemayam nya tulang – tulang nenek moyang kaum keluarga dayak dusun kalahien di sebut si’at yang rata – rata di beri atap dengan 4 tiang penyangga dan di akhiri dengan pelepasan alibat ( rakit Bambu ) yang melukiskan kepergian roh menuju lewu tatau ( surga ) Pada hari ketujuh.


Upacara adat wara dari hari ke pertama sampai hari ke lima biasanya di selingi dengan ritual acara judi dan sambung ayam  ala liau ( roh yang telah meninggal ) antara manusia dengan roh yang telah meninggal dunia serta permainan tinak santukep. Perlambang antara agar roh mendapatkan kemakmuran di lewu tatau ( surga ).

Demikian Para pembaca setia blog ini semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita dan dapat mempertebal kecintaan kita atas keragaman budaya bangsa kita .
salam

2 comments:

Amin said...

saya orang tumpung laung bang :)

boeceng said...

bearti waktu wara kemarin kamu ada ya? aku temennya yusuf, aceng, dan athong..