Pembaca
setia blog ini apabila kita mempunyai keinginan menjadi seorang awak kapal ada
hal yang sangat penting yang berhubungan dengan pekerjaan di kapal yang kadang luput dari perhatian kita. Hal penting tersebut adalah kemampuan dalam hal tali temali. Kelihatan sepele namun
apabila salah dalam menerapkan dapat mengganggu operasional kapal dan atau malah
bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
Contoh
kecil misalnya, dalam pekerjaan menambatkan kapal. Apabila ABK tidak tanggap dan benar dalam melilitkan tali
di bolder bisa mengakibatkan tali susah di buka atau malah bisa mengakibatkan
tangan terlilit tali. Untuk itulah dasar atau pengetahuan tetang tali temali
wajib hukumnya untuk di mengerti bagi para calon ABK .
Pada zaman kapal layar dahulu, tali temali adalah dasar pengetahuan yang harus diketahui oleh tiap-tiap anak buah kapal layar karena banyak berhubungan dengan keselamatan kapal dan keselamatan jiwanya sendiri.
Hal ini disebabkan karena dengan ikatan yang sederhana saja dan cepat para pelaut dapat mengikat maupun melepaskan suatu ikatan dimana bila pengetahuan ini tidak diketahui akan ada kemacetan dalam ikatan tali temali sehingga untuk kapal layar dapat terjadi bahaya dalam olah geraknya.
Juga untuk
naik turun ke tiang layar diperlukan tangga-tangga dari tali serta untuk
mengikat dirinya sendiri
pada tiang layar bilamana sedang bekerja diperlukan pengetahuan tentang tali
menali. Lama kelamaan
pengetahuan tali menali berkembang sehingga terjadi tali-tali hiasan maupun
simpul-simpul.
Sebelum kita belajar lebih lanjut ada baiknya bila kita
mengenali Jenis-jenis tali yang terdapat di kapal di antaranya
adalah ;
1. Tali Manila :
Tali
manila atau abaca atau musa textilis adalah tali yang terbaik untuk dikapal
sehari-hari dalam kapal dan terbuat dari serat abaca dari tanaman
termasuk kelompok pisang dan banyak terdapat di Pilipina.
Sebagai
tali ia licin, mengkilap, kuat, lentur, tahan lama dan mudah digunakan selain
tahan terhadap air laut.
Tali
manila dapat merenggang lebih kurang 25% dari panjangnya. Tali manila dengan keliling 6 inci
atau diameter 2 inci mempunyai daya tahan 16 ton.
2. Tali Nylon:
Tali nylon
adalah yang terkuat namun juga yang termahal dari tali-tali yang dipergunakan
diatas kapal. Telah
terbukti bahwa tali nylon 6,5" sama kekuatannya dengan tali manila
10" dan lebih tahan 15 kali daripada tali manila dalam keadaan yang sama
pemakaiannya. Harganya lebih mahal 5x dari tali manila. Dapat merenggang 10% dari panjangnya. Nylon termasuk
dalam kelompok serat sintetis.
Tali nylon
mempunyai sifat licin, enteng dan tahan terhadap gesekan. Juga tahan terhadap
air laut namun
tidak tahan terhadap asam-asam kimia semacam acid dan alkali. Karena licinnya maka bila membuat mata dari tali nylon diperlukan masuk dalam
untai-untainya paling sedikit
4x bahkan lebih baik 6x.
Tali nylon banyak dipakai juga sebagai buntut
atau ujung tros dari kawat untuk
menyandarkan kapal karena lebih enteng
dan tahan terhadap tegangan. Biasanya ujung ini panjangnya 6 fathom atau 6 x 1,83 meter.
Ukuran standar
dari tali dalam perdagangan adalah fathom. Untuk panjang tali di Inggris adalah 120
fathom sedangkan
di Amerika mempunyai ukuran panjang 200 fathom. Di negara-negara Eropa maupun Asia
dimana berlaku
sistem metrik panjang tali dalam perdagangan adalah 220 meter. Namun harap
diingat bahwa 220 meter adalah sama panjang dengan 120 fathon.
3. Tali Sisal:
Tali sisal
atau agave sisalana terbuat dari serat-serat daun Aloe yang termasuk dalam
kelompok keluarga
nanas.
Banyak terdapat di Jawa dan Afrika Timur. Termasuk juga tali yang kuat dan kekuatan dari
tali sisal yang baik hampir sama kekuatannya dengan tali manila yang kwalitet sedang. Warnanya
putih bersih namun tidak licin. Bilamana
sudah beberapa kali dipakai akan keluar serat-serat serabutnya sehingga
mengganggu
bilamana
dipegang dengan tangan terbuka. Bila
terkena air lebih menggelembung daripada tali manila. Kekuatan tali sisal yang
mempunyai keliling 6 inci
adalah antara 9 s/d 13 ton. Bila dapat memilih maka untuk kapal lebih baik
mempergunakan tali manila.
4. Coir atau tali
serabut kelapa:
Terbuat
dari serat-serat serabut kelapa dan benangnya diimpor dari India dan Sri
Langka. Serat-serat
tersebut sebelumnya direndam dalam air untuk waktu yang lama baru kemudian
dibuat benang
oleh penduduk dan benangnya kemudian di ekspor.
Tali
serabut kelapa sangat lentur, berwarna merah dan sangat mudah mengapung. Terutama dipakai sebagai tali gandeng
di pelabuhan dan ukurannya bervariasi antara 16 s/d 22 inci dalam kelilingnya. Biasanya berputar air atau berputar
kabel yaitu tali yang terdiri dari tiga untai tapi tiap-tiap untai terdiri dari untaian tiga kali. Secara umum beratnya
setengah dari tali manila dan kekuatannya hanya seperenam dari kekuatan tali manila yang sama
ukurannya. Mempunyai
daya lentur antara 60 s/d 100% dari panjangnya.
Juga ada
tali serabut kelapa yang terdiri dari tiga untai biasa dan daya lenturnya hanya
45%. Biarpun
tali serabut kelapa mudah mengapung namun harus dijaga jangan sampai terlalu
banyak meresap
air karena dapat tenggelam karenanya. Terutama di perairan yang berkarang hal
ini harus diperhatikan.
Tali ini akan mudah menjadi busuk kalau disimpan dalam keadaan basah.
5. Tali hemp:
Hemp yang
bernama latin Cannabia Satira berasal dari New Zealand dan St Helena. Karena
dari daerah daerah ini
kwalitasnya kurang baik dipakai untuk inti atau jiwa dari kawat-kawat baja. Namun hemp yang berasal dari Italia
berkualitas baik dan karenanya dipakai untuk tali-tali.
Termasuk
tali yang kuat dan kekuatannya melebihi tali manila yang terbaik sebanyak 20%
(1 1/5 kali). Tidak
menggelembung bilamana basah tetapi karena mahal maka pemakaiannya di kapal
telah dilampaui
oleh tali manila. Dipakai
untuk tali yang melalui blok-blok karena lemasnya.
6. Tali jute:
Nama latin
corchorus dan berasal dari India dan dipakai untuk bahan pembuat karung goni
dan juga sebagai
inti dari kawat-kawat baja. Untuk
kawat-kawat baja lebih banyak dipakai hemp karena lebih kuat dari jute.
7. Flax:
Dipakai
untuk benang-benang layar dan terpal. Juga dipakai untuk benang-benang jahit
karena tahan gesekan.
Nama latin linum usitatissum.
8. Tali cotton :
Bahan dari
tali cotton atau gossypium atau kapas sering dipakai untuk tali bendera maupun
untuk pegangan
tali tangga di gangway-gangway kapal.
9. Tali polyester,
polyproylene, polythene :
Tali-tali
ini terbuat dari serat buatan. Untuk polythene dan polypropylene mempunyai
keuntungan bahwa
dapat mengambang di air. Ke tiga-tiganya tidak sekuat tali nylon. Untuk tali polythene kekuatannya
sebagai tali adalah antara tali manila dan nylon. Karena mempunyai daya serap yang kecil maka mudah
mengambang.
Sebagai
tali sintetis adalah yang paling tepat sebagai pengganti tali serabut kelapa.
Titik cair adalah 135° Celsius
dan tali itu akan mengkerut pada suhu yang lebih rengah. Pada suhu 60° C akan berkerut sebesar
4% dan pada suhu 100° C akan berkerut sebesar 14%. Tidak terganggu bilamana terkena bahan
kimia industri dan bakteri dan tahan terhadap cahaya matahari dan gesekan-gesekan. Lebih kuat 7 X daripada tali serat
sabut kelapa. Sebuah
tali polythene dengan keliling 6 inci dan berat 262,50 kg per satu coil atau
gulungan tali dari 220 meter
mempunyai kekuatan daya putus sebesar 20 ton.A
10. Tali Terylene:
Tali
terylene seperti tali nylon sering dipakai sebagai ujung-ujung dari kawat-kawat
gandengan di kapal. Juga
seperti nylon dan tali-tali sintetis lainnya tahan gesekan. Bila sebelah luar
dari tali sintetis luka terkena gesekan maka serat-serat sintetis akan
mengumpul sehingga mencegah melepasnya dari benang-benang dan serat serat yang sebelah
dalam dari tali itu. Hal
ini berarti bahwa sebelah dalam dari tali sintetis tidak akan berkurang
kekuatannya. Selain itu
gesekan-gesekan antara benang-benang, serat dan untai- untai dari tali-tali
sintetis tidak seperti
pada tali-tali yang terbuat dari serat-serat alam. Juga tali sintetis tidak
mudah terbakar. Karena titik-titik
cairnya rendah maka ujung-ujung dari tali-tali serat buatan dapat disatukan
dengan membakarnya
sehingga untuk tali-tali kecil serat sintetis agar tidak terlepas
ujung-ujungnya cukup dibakar
dengan api saja dan tidak perlu diikat seperti tali-tali serat alam.
Terylene
tidak tahan terhadap asam alkali yang kuat. Tali-tali dari serat buatan
bilamana terkena air kekuatannya
tidak berubah namun untuk tali-tali yang terbuat dari serat alam akan berkurang kekuatannya. Umpama untuk tali manila
akan berkurang kekuatannya menjadi 90% dan tali hemp 80% dari kekuatannya mula-mula.
Setelah mengenal jenis atau
macam – macam tali yang ada di kapal dapat kita ketahui cara membuat agar tali
yang ada di kapal bisa awet. Untuk mengawetkan
tali-tali terhadap cuaca atau yang akan direndam lama kedalam air dilumuri dengan minyak hitam atau tar. Tar itu serupa seperti di Indonesia
digunakan untuk melumuri kayu-kayu di bangunan rumah atas untuk menghindari kerusakan oleh
rayap-rayap. Untuk tali, minyak yang hampir serupa dinamakan "Archangel tar" dan dengan memberi ini maka
berat tali akan bertambah 5% sedangkan kekuatannya akan berkurang dari 7 s/d 12,5%.
Bilamana
kami hendak memakai tali baru maka harus dikeluarkan dahulu dari gulungannya
atau coilnya.
Dan
bilamana tidak diketahui caranya akan sering menyebabkan bahwa tali menjadi kusut,dan
untuk tali
tros atau
yang besar ukurannya akan memerlukan waktu seharian penuh untuk melaksanakannya.
Untuk tali
yang berputar ke arah kanan kami letakkan gulungan tali ditempat yang datar dengan arah gulungan berputar ke
arah kiri jadi berlawanan dengan putaran tali kanan. Sesudah itu kami mengambil ujung tali
dari sebelah dalam dan meletakkan
di atas dek kapal dengan berputar ke kanan.
Dengan
cara ini maka tali tidak menjadi kusut. Untuk tali yang berputar ke kiri kita melaksanakan sebaliknya.
Namun hal
ini hanya berlaku untuk mengeluarkan tali dari gulungan baru. Semua tali-tali bilamana ditaruh
diatas dek harus diletakkan atau diputar sesuai dengan arah putar untai-untai dari pada tali. Bilamana untainya berputar ke kiri
maka menggulungnya juga harus ke arah kiri jadi berlawanan dengan arah jarum jam.
![]() |
contoh bolder |
Bilamana
tidak maka selain susah menggulungnya maka pintalan dari untaian dapat
menjadi renggang sehingga dengan demikian akan mengurangi kekuatan dari tali
itu sendiri. Demikian
juga bilamana kita meletakkan tali di atas kepala winch harus sesuai dengan
putaran winch sewaktu
menghibob. Menggulung
tali adalah pekerjaan yang akan berulang-ulang kali dilakukan di kapal dan
dengan ini dimaksud
agar tali maupun kawat baja akan segeredapat dipakai bilamana diperlukan. Menggulung dengan cara salah juga akan
membuat tali itu mudah kusut. Tali yang lebih besar ukurannya tentunya akan lebih besar
pula lubang gulungannya.
Jika tros
atau kawat dipersiapkan untuk di aria maka, dipersiapkan agar gulungan tersusun
dengan rapi
dan
berdekatan tempat di tali, keluar kapal sehingga keluarnya tali dari kapal
tidak mengalami
hambatan dan
dapat berjalan dengan cepat. Untuk
tali kawat sesuai dengan pintalannya juga digulung kiri atau kanan namun
disebabkan oleh kekakuannya
bila hal tersebut susah dilaksanakan maka kita menggulung sesuai angka 8
(delapan).
Cara mengikat tali.
Sebuah
dadung akan diikat pada bolder atau tunggak penambat kapal di atas geladak
kapal maupun kepada sebuah kaitan tupai-tupai dengan
susunan tali atau kawat sesuai angka delapan. Banyaknya gulungan angka delapan tergantung
kepada ke kuatan yang akan dialami
oleh tali atau kawat itu, jadi pada kekuatan tarikan.
Namun
biasanya untuk dadung sebanyak empat kali dan untuk kawat enam kali sudah dianggap cukup untuk
kekuatan tarikan.
Untuk
gulungan yang terakhir lebih baik dilaksanakan dengan gulungan terbalik. Pada waktu mengikat ke atas
tonggak pengikat terutama untuk kawat baja harus diikat ikatan delapannya agar tidak mudah lepas.
Untuk
kawat baja dipergunakan stopper dari rantai. Dibelit satu kali pada kawat dan diputar sesuai jalan dari
untai kawat. Ada pula yang menggunakan
dua belitan dengan jarak baru rantainya diputar sesuai
dengan
arah jalan dari untai-untai kawat.
Cara ini dapat juga dilaksanakan meskipun
dalam membukanya bilamana kawat
sudah dibelit pada tonggak pengikat kadang-kadang akan mendapat kesukaran dalam cara
membukanya. Untuk
menstoppor tros atau dadung kami menggunakan tali yang lebih kecil atau pintalan
tali. Untuk menstoppor
maka jalan dari tali stoppor jalannya berlawanan dengan jalannya arah dari
untai-untai tali sehingga
dengan ini maka stoppor akan lebih keras menggigit.

Orang yang
menstopper
demi keamanannya lebih balk berdiri di luar lengkungan dari kawat. atau tros yang mengarah
ke tonggak pengikat. Seperti pada
kawat maka pada tali juga dapat digunakan stopper dengan menggunakan
dua belitan pada tros atau dadung. Untuk ini maka stoppor dapat mengikuti jalan
dari untai-untai dengan tidak mengurangi kuatnya gigitan stoppor tali pada dadung.
Seperti
terlihat pada gambar maka pada (1) dimulai dengan lilitan pertama dan pada (2)
adalah lilitan kedua yang
dibuat antara lilitan pertama dengan tali. Pada (3) dengan melalui bawah tali lalu
dikeluarkan lagi, dan ujungnya dipegang oleh seorang sambil menunggu dadung
dipindahkan dari kepala winch dan dibelitkan
ke tonggak pengikat.
Setelah
selesai dibelit pada tong gak
pengikat baru stoppor dilepas. Tali-tali yang sedang ukurannya umpama tali bendera atau tali
gai-gai diikat pada tupai-tupai tegak
dikapal.
Cara
mengikat tali pada kapal selain pada tonggak pengikat dan pada tupai-tupai juga
dapat di laksanakan kepada tanduk pengikat yang
dalam bahasa Inggrisnya dinamakan staghorn. Tanduk pengikat terdapat pada dewi-dewi sekoci
pada kapal-kapal dimana tali dari dewi-dewi masih terbuat dari tali. Namun sekarang sudah jarang didapat di
kapal-kapal besar akan tetapi di kapal-kapal pesiar masih terdapat.
Demikian semoga sedikit tentang tali temali di atas kapal ini bermanfaat bagi kita semua... salam.
2 comments:
Gambar e kurang seru lek
kelebihan malam lailatul qadar
terimakasih gan
Post a Comment